Personel Garda Nasional berjaga di sekitar lokasi penembakan di Kota Washington DC, Amerika Serikat.

Saksi mata menceritakan, penembakan terjadi di tengah keramaian di sekitar stasiun metro Farragut West.

Terdengar beberapa kali suara tembakan dan orang-orang berlarian mencari tempat berlindung.

"Tentara Garda Nasional berlari menuju stasiun metro dengan senjata di tangan,” kata saksi mata. 

Tidak lama kemudian, petugas keamanan gabungan "mengepung" area di sekitar stasiun metro Farragut West, hanya dua blok dari Gedung Putih. 

Helikopter juga dikerahkan untuk memantau situasi pusat kota dari udara.

Kantor berita AFP melaporkan, tim medis yang membawa tandu juga dikerahkan menuju stasiun metro Farragut West. 

Beberapa menit kemudian, tim medis membawa korban yang mengenakan seragam kamuflase dan langsung dilarikan ke rumah sakit dengan mobil ambulans. 

Setelah insiden penembakan ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan penambahan 500 personel Garda Nasional ke Kota Washington DC, sehingga totalnya menjadi 2.500 orang. 

“Kami ingin memastikan Washington DC menjadi kota yang aman dan indah,” kata Pete Hegseth. 

Namun, kebijakan pengerahan militer di kota-kota besar yang dipimpin oleh wali kota dari Partai Demokrat, termasuk Washington, Los Angeles, dan Memphis, mendapat kritik dari banyak pihak. 

Kebijakan Donald Trump yang berasal dari Partai Republik dinilai justru memperburuk situasi. 

Alasannya, tentara Garda Nasional tidak dilatih untuk menghadapi pelaku kriminal atau kejahatan jalanan. (*) 



Baca juga