Unismuh Makassar menggelar kegiatan bertajuk “Artificial Intelligence (AI) dalam Perspektif Kajian Literasi Islam” pada Rabu, 26 Maret 2025, di Balai Sidang Muktamar ke-47 Unismuh Makassar. .

“AI adalah buah dari pembacaan alam. Dalam Al-Qur’an, ulil albab adalah orang cerdas yang memanfaatkan pikirannya untuk menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta,” ujarnya.

Prof. Ambo mengajak civitas akademika untuk tidak alergi terhadap perkembangan ilmu, namun tetap menanamkan nilai etis dan spiritual dalam pengaplikasiannya. 

“Ayat-ayat Allah tidak hanya yang tertulis 6.236 di Mushaf. Di alam semesta ini ayat-ayatNya tak terhingga,” kata Guru Besar Tafsir ini.

AI Bukan Pengganti Akhlak

Dalam paparannya, Prof Muhammad Isran Ramli menyebut bahwa AI tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai akhlak dan kejujuran manusia.

Ia mengingatkan pentingnya umat Islam untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penafsir moral dari setiap capaian sains modern.

“AI bisa membuat ceramah, menyusun khutbah, bahkan menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an dalam hitungan detik. Tapi ingat, ini buatan. KW. Tidak ori. Harus ada verifikasi, harus ada kebijaksanaan,” ujar Isran yang juga merupakan kader Muhammadiyah.

Isran, yang mengaku membuat materi presentasi hanya dalam waktu lima menit menggunakan fitur AI Copilot di Microsoft, tidak bermaksud meremehkan kemampuan teknologi.

Justru, ia ingin membuka mata sivitas akademika tentang besarnya potensi AI — sekaligus risiko jika tak disertai kesadaran etik.

Dalam pemaparannya, Isran menyebut bahwa AI bekerja berdasarkan data masa lalu dan algoritma yang meniru cara berpikir manusia. 

“Jangan bayangkan AI ini sakral. Ia hanya secerdas data yang dikonsumsi. Maka umat Islam harus tetap menjadi filter,” tegasnya.

AI untuk Dakwah dan Literasi Islam

Salah satu gagasan menarik yang disampaikan Isran adalah bagaimana AI justru bisa memperkuat dakwah Islam, jika diarahkan dengan bijak. 

Ia mencontohkan aplikasi Ikhraf dan Analyze Al-Qur’an, yang memungkinkan pengguna menggali kandungan ayat dengan cepat dan tepat.

“Bayangkan, kita dulu belajar tafsir pakai indeks Fatur Rahman, cari ayat berjam-jam. Sekarang? Setengah detik. Tapi kemudahan ini harus dibarengi dengan kesadaran. Jangan serahkan semuanya ke mesin,” ujarnya.

Isran juga mengisahkan bagaimana ia melatih dosen dan mahasiswa menggunakan aplikasi AI berbasis Quran.

“Bu Dekan Keperawatan Unhas, Prof Ariyanti, bahkan ikut kajian saya,” katanya sambil tersenyum menoleh ke Prof Ariyanti, yang juga hadir dalam buka puasa Unismuh kali ini.

Namun demikian, ia tetap memperingatkan adanya sisi gelap AI, seperti penyalahgunaan dalam perjudian daring, manipulasi e-commerce, atau konten tak senonoh yang bisa diakses anak-anak.

“Ini PR kita. Umat Islam harus menjadi pagar moral,” tegasnya.

Menutup ceramahnya, Isran menegaskan bahwa keberadaan AI tidak boleh membuat umat Islam kehilangan jati diri sebagai ulil albab — kelompok manusia yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai cerdas secara spiritual dan intelektual.

“AI ini cerdas, tapi bukan ulil albab. Kitalah yang harus memandu. Gunakan teknologi, tapi jangan tinggalkan hikmah,” tuturnya dengan penuh semangat. (*)



Baca juga