Koordinator Perguruan Tinggi Islam (Kopertais) Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua, Prof. Hamdan Juhannis, PhD.
Ia menjelaskan bahwa tasbih bukan sekadar alat hitung dzikir, tetapi juga simbol perjalanan hidup yang penuh makna.“Tasbih ini menjadi pengingat bahwa kehidupan harus senantiasa diiringi doa dan usaha. Sarjana yang sukses bukan hanya yang memiliki ilmu, tetapi juga yang memahami makna kehidupan,” ujarnya.Ia pun menantang para wisudawan untuk terus mengembangkan kreativitas dan motivasi dalam menghadapi perubahan zaman.“Kalian harus menjadi agen perubahan, membawa kedamaian, wawasan, dan kecintaan dalam kehidupan yang akan datang,” pesannya.Hubungan Kesejarahan dengan UnismuhDi akhir pidatonya, Rektor UIN Alauddin Makassar ini mengungkapkan bahwa dirinya memiliki hubungan erat dengan Unismuh Makassar.“Saya punya banyak sahabat di sini, seperti Prof. Dr. Ambo Asse, Prof. Dr. Andi Syukri Syamsuri, Rektor Rakhim Nanda, Pak Syaiful, dan Prof. Gagaring. Mereka adalah orang-orang yang telah membesarkan Unismuh,” tuturnya.Dengan penuh harapan, ia mengajak para wisudawan untuk terus berkembang dan menjadi pribadi yang sukses, baik dalam karier maupun dalam pengabdian kepada masyarakat.“Jadilah sarjana yang kelak menjadi kebanggaan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, bangsa, dan agama,” tutupnya. (*)
Baca juga