Prof Lukman Hakim pada pidato pengukuhan sebagai guru besar Unismuh Makassar.
“Dengan melibatkan masyarakat sebagai pemain kunci, pemberdayaan dapat menciptakan kemandirian serta meningkatkan kesejahteraan dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya lokal,” paparnya.Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan sangat ditentukan oleh kebijakan yang ramah masyarakat, partisipasi aktif masyarakat, serta dukungan lembaga pendamping. Namun, ia juga menyoroti berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses infrastruktur, pendidikan yang masih perlu diperbaiki, serta koordinasi antar pemangku kepentingan yang perlu ditingkatkan.Strategi yang ia tawarkan mencakup peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan ekonomi lokal, integrasi teknologi, serta kolaborasi multipihak. “Pendekatan holistik dalam pemberdayaan tidak hanya berdampak pada peningkatan ekonomi, tetapi juga memperkuat masyarakat, melindungi lingkungan, dan melestarikan kearifan lokal,” jelasnya.Jejak Akademik dan PengabdianLukman Hakim lahir di Ujung Pandang pada tahun 1961. Sejak kecil, ia mengenyam pendidikan di lembaga pendidikan Muhammadiyah dan pesantren, mulai dari SD Muhammadiyah Mamajang hingga Pesantren IMMIM Putera Tamalanrea. Perjalanan akademiknya berlanjut ke Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI) Makassar, Universitas Hasanuddin (Unhas), hingga menuntaskan pendidikan doktoralnya di Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam bidang Ilmu Penyuluhan Pembangunan.Sejak tahun 1987, Lukman Hakim aktif sebagai dosen di Unismuh Makassar dan telah mengemban berbagai jabatan strategis, termasuk Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Pembantu Dekan I Fisipol, serta Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Unismuh Makassar.Kini, sebagai Guru Besar di Unismuh Makassar, ia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan keilmuan dan pemberdayaan masyarakat. “Pemberdayaan masyarakat lokal memberikan dampak positif terhadap pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi dan inovasi yang berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata,” tegasnya.Dengan pengukuhan ini, Prof Lukman Hakim meneguhkan perannya dalam dunia akademik dan sosial. Air mata yang jatuh di Balai Sidang Muktamar 47 hari itu bukan sekadar luapan emosi, tetapi juga simbol perjalanan panjang dan dedikasi dalam dunia pendidikan dan pengabdian masyarakat. (*)
Baca juga