Aktivitas belajar di Kampus Lorong, Jl Daeng Jakking, Kota Makassar.

Ia membawa angin segar, menunjukkan bahwa kreativitas dapat membuka pintu rezeki bahkan dari rumah sendiri.

Tidak sendiri, Bu Risya datang, ia bersama dosen Kampus Lorong yang lain yaitu ibu Andi Meirling, S.S., M.Hum, yang akrab dipanggil Bu Amel.

Datang dari kawasan Boulevar Panakukang Makassar, ia datang jauh-jauh untuk mengajar anak-anak di kelas Bahasa Indonesia.

Dengan penuh kesabaran, ia membimbing para anak-anak dengan berbagai karakter bawaanya untuk mencintai bahasa ibu mereka yakni bahasa Indonesia, sekaligus memahami bagaimana bahasa dapat menjadi kekuatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dua sosok Dosen Kampus Lorong ini tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga menunjukkan bahwa kebermanfaatan adalah puncak dari keberhasilan.

 “Sebagai manusia, kita dituntut untuk bermanfaat bagi sesama,” mengutip sebuah hadis yang menjadi nafas hadirnya kegiatan ini.

 Kata-kata itu bukan sekadar kutipan, melainkan cermin dari apa yang terjadi di Kampus Lorong Kelurahan Parang Tambung.

 “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”.~ Hadits.

Setiap anak yang membaca, setiap ibu yang belajar, adalah bukti nyata bahwa ilmu adalah pelita, dan berbagi adalah cahayanya.

Di tengah lorong yang sempit, harapan justru meluas.

 Kampus Lorong dengan tagline ‘Bertindak Lokal, Berpikir Global”  tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga simbol kolaborasi dan pemberdayaan.

Di tempat ini, ilmu mengalir tanpa sekat, menciptakan gelombang kecil yang pelan namun pasti akan membawa perubahan besar.

Langit boleh berubah warna, tapi semangat mereka tetap sama: berbagi, membangun, dan memberdayakan. (*)

Penulis: Rahman Rumaday, Founder K-Apel



Baca juga