Ryan Wesley Routh, tersangka upaya penembakan Donald Trump di lapangan golf, Minggu (15/9/2024).

Ia bahkan mengaku bersedia mati dalam pertempuran untuk Ukraina. 

"AKU BERSEDIA TERBANG KE KRAKOW DAN PERGI KE PERBATASAN UKRAINA UNTUK MENJADI RELAWAN DAN BERJUANG DAN MATI... Bisakah aku menjadi contoh? Kita harus menang," tulis Routh dalam salah satu postingannya di akun X.

Sedangkan di Facebook, Routh memotivasi orang-orang di luar negeri untuk berperang. 

Routh juga mengomentari penembakan terhadap Trump dalam kampanye Pilpes AS di Kota Butler, Negara Bagian Pennsylvania, Juli 2024. 

Penembakan itu menyebabkan telinga Trump berdarah, menewaskan seorang warga, dan beberapa orang terluka.

Dalam unggahannya ketika itu, Routh menandai akun Presiden Joe Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris agar mereka membesuk para korban luka pada insiden itu. 

“Anda dan Biden harus membesuk orang-orang yang terluka di rumah sakit dari kampanye Trump dan menghadiri pemakaman petugas pemadam kebakaran yang tewas. Trump tidak akan pernah melakukan apa pun untuk mereka,” tulis Routh.

Dalam unggahan lain, Routh memuji Presiden Joe Biden akan mampu menjaga Amerika Serikat tetap demokratis dan bebas. 

Sebaliknya, mengkritik Trump akan menjadikan rakyat Amerika sebagai budak. 

Sebelumnya, Sheriff Palm Beach County, Ric Bradshaw, dalam konferensi pers mengatakan, moncong senapan mencuat dari pagar lapangan golf dan langsung mengarah ke Trump.

Petugas keamanan bertindak cepat sebelum Routh melepas tembakan. (*)



Baca juga