Observatorium Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menjadi lokasi pemantauan hilal 1 Syawal 1445 oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulsel

Prof Najamuddin mengakhiri sambutan dengan salam penutup khas Muhammadiyah yang memiliki arti “Pertolongan datang dari Allah dan kemenangan itu sudah dekat".

“Nashrun minallahi wa fathun qarib,” ujar Ketua MUI Sulsel itu.

Tidak lama, Prof Najamudidn lalu meneruskan kalimat penutupnya dengan menyebutkan kalimat yang lazim digunakan oleh warga Nahdlatul Ulama, yang bermakna "Allah adalah zat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya".

"Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Najamuddin.

Hal tersebut menjadi penanda ajakan Ketua MUI itu terhadap toleransi dan persatuan antar umat Islam.

Sikap Muhammadiyah

Ditemui usai acara, Rektor Unismuh Makassar Prof Ambo Asse menyebut, dengan memiliki Observatorium, bukan berarti Muhammadiyah tidak meyakini ilmu hisab.

"Tingkat kebenaran hisab itu sudah meyakinkan. Misalnya, dalam menentukan kapan gerhana matahari, gerhana bulan, sangat akurat waktunya. Hisab punya tingkat kebenaran yang tinggi,” ucap Ambo Asse.

Kehadiran observatorium Unismuh Makassar, lanjutnya, untuk memperkuat perhitungan ilmu hisab dengan observasi ilmiah dan pengembangan astronomi bagi mahasiswa dan dosen.

Terkait dengan dukungan Muhammadiyah untuk persatuan Umat dalam penentuan Hari Raya, Ambo Asse menyebut, Muhammadiyah telah menunjukkan itikad baik dengan mendorong Kalender Hijriah Global Tunggal, yang telah dicetuskan pada Konferensi Internasional di Turki pada tahun 2016 lalu 

Nakhoda Unismuh itu juga menegaskan, bahwa pihaknya tetap bersedia menjadi tuan rumah pemantauan hilal, jika diminta Kementerian Agama.

Berdasarkan hasil hisab, posisi hilal telah mencapai 5 derajat 19 menit. (*)


Baca juga