Bupati Maros H.A.S. Chaidir Syam menunjukkan Sertifikat Geopark Maros Pangkep dari Maroko..

LITERASI-ONLINE.COM, MAROKO - Bupati Maros HAS Chaidir Syam dan Bupati Pangkep Yusran Lologau ikut merasakan serta menyaksikan dampak guncangan gempa dahsyat Magnitudo 6,8 yang melanda Maroko, Jumat (8/9/2023) malam waktu setempat.

Pada saat kejadian, Bupati Maros dan rombongan sedang istirahat di Hotel Zalagh Kasbah, Kota Marrakesh.  

Bupati Maros dan Pangkep ke Maroko untuk mengikuti Konferensi Geopark Global yang dipusatkan di kota tua Marrakesh, Maroko.

Rangkaian acara mestinya berlangsung 4-10 September 2023. Namun, beberapa agenda dibatalkan karena musibah gempa.

Rombongan Bupati Maros tiba di Maroko pada 6 September 2023.

Dari kota wisata Marrakesh yang merupakan salah satu wilayah terparah karena guncangan gempa, Bupati Maros dan rombongan pindah ke Kota Casablanca.  

Pada Konferensi Geopark Global itu, Bupati Maros dan Pangkep menerima Sertifikat Geopark Maros Pangkep. 

Tentang Konferensi Geopark Global

Informasi dari laman UNESCO menyebutkan, Konferensi Geopark Global menandai kembalinya pertemuan tatap muka pascapandemi, sekaligus Konferensi Geopark Internasional pertama yang diselenggarakan di Benua Afrika.

UNESCO menyebut hal ini sebagai langkah signifikan yang sejalan dengan fokus strategis UNESCO di Afrika, dan langkah untuk mengembangkan lebih banyak geopark di seluruh benua Afrika.

Kegiatan ini bertajuk Konferensi Internasional ke-10 tentang Geopark Global UNESCO.

Konferensi dimulai pada hari Kamis 7 September, dan akan diikuti lebih dari 1.000 peserta dari lebih dari 50 negara. 

Baca: Hadiri Konferensi Geopark di Maroko, Bupati Maros Tidur di Tepi Kolam Renang karena Gempa

Acara ini diadakan setiap dua tahun sekali. Menjadi pertemuan paling penting bagi individu dan organisasi yang terlibat dalam geopark, menawarkan kesempatan unik untuk berbagi penemuan dan praktik terbaik.

Konferensi di Maroko ini dimulai dengan acara pembukaan, menampilkan pidato dari Lidia Brito, Asisten Direktur Jenderal Ilmu Pengetahuan Alam di UNESCO.


Baca juga