Ratusan orangtua siswa dua sekolah dasar di Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat, unjuk rasa mempertanyakan tabungan anak mereka yang diduga dibawa kabur mantan kepala sekolah. (foto: TVOne, Denden Ahdani)

Setelah itu, diangkat sebagai Plt Kepsek SDN Pakemitan 3 yang lokasi sekolahnya berdekatan.

Di SD Pakemitan 3, pelaku diduga membawa kabur Rp 500 juta dengan modus yang sama. 

Artinya, dari dua sekolah itu, pelaku diduga membawa kabur uang tabungan siswa sekitar Rp 800 juta. 

Menurut orangtua siswa, IS sudah tidak bisa dihubungi lewat telepon dan sulit ditemui di rumahnya.

Orangtua siswa yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya menggelar unjuk rasa. 

Selain unjuk rasa, berdasarkan hasil musyawarah, orangtua siswa juga sepakat membawa masalah ini ke jalur hukum.

Wawan yang kini Plt Kepala Sekolah SD Pakemitan 3 membenarkan kejadian di sekolahnya yang diduga melibatkan mantan kepala sekolah IS. 

Dijelaskan, modusnya yakni dari wali kelas I sampai VI, tabungan siswa dikumpukan di bendahara sekolah. 

Kemudian, bendahara sekolah diminta menyetor tabungan milik ratusan siswa itu kepada IS yang saat itu menjadi kepala sekolah. 

Orangtua siswa mulai curiga ketika tidak bisa "mencairkan" uang tabungan anak mereka. 

Padahal, biasanya uang tabungan itu dicairkan atau dikembalikan ke siswa menjelang kenaikan kelas.

Ketika orangtua siswa mulai resah, pihak sekolah menyampaikan, uang itu dikuasai IS yang mantan Kepsek SDN 1 Pakemitan dan Plt Kepsek SDN 3 Pakemitan. 

Menurut Wawan, mekanisme tabungan siswa pada saat itu dikumpulkan oleh wali kelas. Kemudian disetorkan ke bendahara sekolah, lalu dipegang oleh kepala sekolah saat itu. (*)



Baca juga