Bachtiar Adnan Kusuma
Bagi saya, menulis buku, sekali lagi tidak cukup, tanpa dibantu dengan ilmu komunikasi, ilmu pemasaran, ilmu manajemen, dan ilmu editorial.Malaikat Tak Bersayap Itu dari LettaTapak sejarah yang harus ditulis khusus dalam perjalanan kepenulisan saya adalah tatkala saya menulis biografi pendiri Perusahaan Poleko Group pada tahun 1995. Dia ibarat malaikat tak bersayap, lelaki pemberani dari Letta, Dr H.A.A. Baramuli, SH. Saat itu Baramuli menjabat sebagai wakil ketua Komnas HAM. Dialah yang menyibak peta jalan kepada saya untuk hijrah ke ibu kota Jakarta. Jalan Imam Bonjol 51 Jakarta Pusat menjadi saksi bagi langkah-langkah kecil saya dalam menulis buku dengan modal kerja Rp 100 juta dari almarhum Dr. H.A.A. Baramuli, S.H.Aktifitas hidup dan nafas saya dalam penulisan buku tidak pernah berhenti sedetik pun. Saya pun membentuk tim kreatif, tim penulis yang stay di berbagai kota seperti Palu, Jakarta, Makassar, Bali, Jawa Tengah. Namun, semua proses kreatif itu bermuara di Jakarta.Segala pencapaian saya tidak terpisahkan dengan energi cinta dua tokoh perempuan tangguh kebanggaan saya, yakni Ibunda Almarhum Hj. Baeduri Dg Ngimi, dan istri tercinta, Ani Kaimuddin. Sang Bunda Hj. Baeduri yang hidup single parent berupaya keras membantu buah hatinya menggapai cita-cita sebagai penulis meski dengan penghasilan pas-pasan sebagai pedagang kelontong. Upaya dan doa suci sang bunda menjadi pondasi kuat yang mengantarkan saya menjadi sukses seperti hari ini.Begitu pula sang istri tercinta yang setia dan cinta senantiasa melecut semangat saya untuk terus berkarya dalam tulisan-tulisan. Ani Kaimuddin, perempuan Bugis Barru, kelahiran Buol Toli-Toli, 17 Mei 1976 yang saya kenal semasa KKN Unhas Angkatan 48 Tahun 1995 di Ponpes DDI Mangkoso. Telah dipahat hari kelahirannya sebagai hari berdirinya perusahaan penerbitan, Yapensi Jakarta milik kami berdua.Sumber energi lainya dalam berkarya adalah enam buah hati saya. Mereka adalah dr. Dea Ambarwati Kusuma, S.Ked, dr.Mulafarsyah, S.Ked.(Alumni FK Unhas), Ria Atmaranti Kusuma (Psikologi UNM), Safwan Ariyadi Kusuma (UIN Alauddin), Farhan Alfarisi Kusuma (Kelas 4 SDN MSI) dan cucu saya tersayang Zakira Talita Delafarsyah.Masih panjang kisah saya sebagai pejuang literasi Sulawesi Selatan yang kemudian memeroleh Penghargaan Tertinggi dari Perpustakaan Nasional RI yaitu Nugra Jasadharma Pustaloka pada 2021 kategori masyarakat. Bahkan mungkin berjilid-jilid untuk dituliskan tentang jejak langkah saya. Semua tempatnya berpijak adalah karya dan sejarah kesunyian. Dan inilah torehan kutipan saya “Bila tiba masa berjumpa jangan bicara apa-apa, mari bersama, mengayun langkah menjemput cinta yang tak pernah punah. Terima kasih atas semua dukungannya, dan sekali lagi aku bangga memilih menjadi Penulis sebagai jalan hidupku." (*)
Baca juga