*Penulis: Ifah Finatry Latiep, Dosen Universitas Megarezky Makassar LITERASI-ONLINE.COM - Tahun baru 2023 penuh harapan untuk kemajuan perekonomian dimana UMKM merupakan roda penggerak ekonomi di kalangan masyarakat, saatnya lebih mengoptimakan sinergi antara dosen dan mahasiswa sebagai akademisi dan pemilik UMKM sebagai praktisi yang perlu diperkuat.
Program MBKM diharap mampu memperkuat sinergi yang telah disebutkan sebelumnya. Tujuan kebijakan Merdeka Belajar - Kampus Merdeka (MBKM), program “hak belajar tiga semester di luar program studi” adalah untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman. Menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan bangsa yang unggul dan berkepribadian. Program experiential learning dengan jalur yang fleksibel diharapkan akan dapat memfasilitasi mahasiswa mengembangkan potensinya sesuai dengan passion dan bakatnya.Teori yang telah diajarkan di ruang kelas kampus diharapkan mampu menjadi bekal bagi para mahasiswa calon sebagai sarjana untuk terjun langsung dalam mengembangkan UMKM di Kota Makassar. Hal sederhana yang dapat dilakukan yakni memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk mendampingi para pelaku UMKM, mulai dari penataan pencatatan hingga proses pemasaran langsung maupun melalui sosial media.Jumlah mahasiswa yang banyak dapat menjadi potensi untuk pendorong kemajuan UMKM.Pelaksanaan OMOS (One MSMEs One Student) menjadi konsep untuk memajukan UMKM di Kota Makassar dan tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di berbagai wilayah Indonesia.Pelaksanaan MBKM juga sebaiknya dilaksanakan di tingkat UMKM, agar pembinaan UMKM yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Makassar dan dinas terkait dapat dimaksimalkan dengan adanya peran mahasiswa yang terjun langsung membantu meningkatkan kapabilitas dari UMKM di Kota Makassar. Ide OMOS (One MSMEs One Student) terinspirasi dari konsep OPOP (One Village One Product) yang bisa memajukan ekonomi di Jepang.Maka ketika 1 UMKM didampingi oleh 1 mahasiswa yang telah dibekali kompetensi berupa literasi kewirausahan dan digital marketing, maka bisa dibayangkan perkembangan UMKM di Kota Makassar sebagai pioner pelaksanaan konsep ini. Adapun mahasiswa yang diterjunkan untuk mendampingi UMKM harus melalui uji kelayakan dengan penilaian dari dosen sebagai supervisor dan perlu dibahas lebih lanjut bersama para dosen akademisi untuk standarisasi kompetensi mahasiswa yang layak mengikuti program OMOS. (*)
Penulis: Ifah Finatry Latiep, Dosen Universitas Megarezky Makassar