Bromo Kusumo Achmad, Mahasiswa S3 UHO.

Kondisi ini meyebabkan lingkungan menjadi lebih kritis, membahayakan kesehatan petani dan konsumen.

Mengacu hal tersebut maka perlu adanya intergrasi antara petani dan Sumber Daya Alam untuk pembangunan pertanian yang ramah lingkungan.

Hal ini karena hubungan keduanya dapat berdampak positif pada kesehatan dan lingkungan.

Oleh karena itu, maka perlu menjadi perhatian yang lebih cermat hubungan antara keduanya. Strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. 

Rekayasa “lingkungan biologis” merupakan salah solusi yang mungkin dapat dilakukan. 

Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan keharusan yang perlu dilakukan pada masa saat ini dan masa yang akan mendatang. 

Harapannya dengan adanya kegiatan pertanian akan dapat memasok kebutuhan hidup manusia secara berlanjut, tanpa menimbulkan degradasi lingkungan.

Rekayasa lingkungan biologis adalah memanfaatkan tumbuh-tumbuhan seperti rumput liar yang banyak tumbuh di alam. Penerapan rekayasan lingkungan biologis ini dikenal dengan sebutan  biosaka. 

Biosaka adalah gabungan kata dari Bio (tumbuhan) dan SAKA (Selamatkan Alam Kembali ke Alam) yaitu, sebuah remasan yang mengandung elisitor dan dapat merangsang kesuburan tanah dan tumbuhan yang dapat menghemat biaya bagi petani.

Penerapan  ini pertama kalinya dipraktekkan oleh “Mas Ansar” sejak tahun 2019. Dan mencoba mempraktikan rekayasa biologi ini kepada petani,  siapa saja yang mau coba-coba biar kecil-kecil saja “ungkap ansar” . 

Awanya petani tidak percaya dan sulit untuk menerima penerapan ini. Karena petani takut mengalami kerugian atau gagal panen. 

Tapi kenyataanya hingga saat ini penerapan ini sudah terbukti berhasil dan sudah dipraktikkan pada tanaman, jagung, kedelai, kacang tanah, cabai merah, melon dan hasilnya maksimal baik dari fase fegetative maupun generative. 

Hal ini juga di pertegas oleh pakar teknologi hayati ITB Prof Manurung yang menyatakan bahwa rumput ini mengandung senyawa aktif “bioelicitor.”  

Mekanismenya adalah menghantarkan sinyal bagi tanaman, sehingga mampu bertahan terhadap stress maupun organisme pengganggu.

Pengembangan rekayasa lingkungan biologis ini dimulai dari Kota Blitar, Jawa Timur dan selama 3 tahun terakhir ini perkembangannya sudah mencapai sekitar 12.000 ha pada lahan pertanian  dan sudah menyebar di beberapa Kabupaten/Kota Pulau Jawa. Bahkan sampai di luar Pulau Jawa.

Aplikasi rekayasa lingkungan biologis “biosaka” ini termurah dan termudah. Apa saja rumput  yang ada disekitar minimal 5 jenis rumput liar yang tentunya  memiliki ciri-ciri daun sehat dan cerah dalam arti daun sempurna, tidak ada lubang karena hama dan tidak berjamur.

 Lalu kemudian 5 jenis rumput liar tersebut diremas dengan kedua tangan dalam wadah berisikan air dengan waktu kisaran 10 menit sampai benar-benar homogen dengan perbandingan 5 % rumput 95 % air, diperkirakan 5 liter air untuk 5 jenis rumput liar dalam satu wadah. 

Seterusnya dilakukan penyemprotan  dengan perbandingan 40 ml biosaka dalam 15 liter tangki semprot dengan luas lahan sekitar 1000-1500 m2.

Manfaat dari sistem ini  meningkatkan produktifitas dan kelestarian lahan, meningkatkan keharmonisan kehidupan sosial dan menyehatkan lingkungan. 

Sehingga dapat dikatakan bahwa pendekatan model rekayasa lingkungan biologis dapat memberi keuntungan bagi masyarakat petani baik dari segi ekonomi, lingkungan dan sosial, dan merupakan model yang tepat dalam pembangunan yang berkelanjutan.*

*Penulis: Bromo Kusumo Achmad, Mahasiswa S3 UHO Prodi Ilmu Pertanian, Peminatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan



Baca juga